Minggu, 05 Mei 2013

Renungan Pagi, Minggu 5 Mei 2013


“Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, aku mendengar makhluk yang ketiga berkata : “Mari!” Dan aku melihat : sesungguhnya, ada seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya memegang sebuah timbangan di tangannya.  Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata : SECUPAK GANDUM SEDINAR, DAN TIGA CUPAK JELAI SEDINAR.   TETAPI JANGANLAH RUSAKKAN MINYAK DAN ANGGUR ITU” (Wahyu 6:5,6).

Secupak adalah kira-kira upah sehari pada masa itu.  Jadi harga yang disebutkan dalam ayat ini menggambarkan masa kelaparan yang berat.  Seorang harus bekerja sehari penuh untuk dapat memperoleh cukup gandum bagi dirinya sendiri.  Jika dia memiliki keluarga, maka dia harus membeli gandum yang lebih murah.   Melihat jumlah anggota keluarga yang biasanya besar di zaman itu, maka anak-anak akan mati kelaparan atau menderita kekurangan gizi.

Mengapa ayat ini menyebutkan jangan rusakkan minyak dan anggur, hal-hal yang kurang dibutuhkan dibandingkan gandum ? Pada abad  pertama di Asia Kecil, perdagangan anggur lebih banyak menghasilkan untung daripada gandum.  Para pemilik tanah yang kaya di Asia, akhirnya beralih dari gandum menjadi petani anggur.  Maka para pemilik tanah menyisihkan banyak tanah mereka di propinsi Asia (termasuk di ketujuh jemaat) untuk menghasilkan minyak zaitun dan anggur bagi keuntungan ekspor.  Sementara harus mendatangkan gandum jauh-jauh dari Mesir atau daerah lain di sekitar Laut Hitam.  Ketika para pemilik tanah dan perusahaan ekspedisi mendapatkan keuntungan  dari pilihan mereka, penduduk di Asia harus membayar lebih mahal untuk bahan pokok.  Masalah ini menjadi sangat serius sehingga kaisar Domitian ikut campur tangan dan memaksa pemilik tanah membatasi produksi anggur di propinsi Asia, tapi tidak berhasil.  Dan seperti biasanya terjadi, keserakahan kaum kaya berakibat serius terhadap kaum miskin.

Lalu, menjaga minyak dan anggur juga merupakan tanda belas kasih Allah dalam masa penghakiman. Peperangan di masa Mediterania kuno termasuk dengan menghancurkan hasil panen di ladang, tetapi bukan tanaman anggur dan pohon zaitun [perlu 15 tahun untuk mencapai produksi penuh].  Kehilangan gandum dan tepung berarti kelaparan untuk setahun, tetapi menghancurkan pokok dan pohon anggur berarti malapetaka berkepanjangan.

Sementara penghakiman Tuhan dalam kehidupan kita bisa tampak keras, hal itu dibiarkan terjadi untuk menyelamatkan kita, bukan menghancurkan kita.  Bukan tujuan Tuhan memperpanjang penderitaan, tetapi Dia menggunakan penderitaan untuk menarik perhatian kita pada-Nya.   Jika saja semua orang mendengarkan panggilan Allah, maka sebagian besar ketidakadilan di dunia ini akan hilang.

Tuhan, aku ingin mendengarkan panggilan-Mu dalam hidupku hari ini.  Semoga aku tidak membutuhkan kesusahan hidup ini, supaya aku rela mendengarkan-Mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar