Senin, 08 Juli 2013

Renungan Pagi, Senin 8 Juli 2013

‘Dan suara yang telah kudengar dari langit itu, berkata pula kepadaku, katanya: ‘Pergilah, ambillah gulungan kitab yang terbuka di tangan malaikat, yang berdiri di atas laut dan di atas bumi itu.’ … Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu, TETAPI SESUDAH AKU MEMAKANNYA, PERUTKU PAHIT RASANYA. Maka ia berkata kepadaku: ‘Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa dan kaum dan bahasa dan raja” (Wahyu 10:8-11).

Yohanes bukan orang terakhir mengalami segala sesuatu yang berubah menjadi pahit. Strategi Allah terhadapnya tampaknya cara yang Tuhan sering pakai mempersiapkan orang-orang untuk menjalani suatu bentuk pelayanan yang berbeda.

Ketika Gavin masih remaja, dia masuk sekolah swasta yang bergengsi. Teman-teman sekelasnya adalah anak-anak diplomat dan orang-orang terkaya di Negara. Dia memenangkan banyak beasiswa, dan menerima penghargaan untuk banyak hal. Dia tidak pernah gagal meraih apapun yang dia inginkan.

Namun demikian, ketika dia menjadi pendeta, keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Masalah kesehatan membuatnya ‘tertawan’ di rumah sakit, lalu dia kehilangan pekerjaannya. Gosip menghancurkan reputasinya. Teman wanitanya memutuskan hubungan. Seakan-akan secara sistematis Allah mengambil satu per satu segala sesuatu yang selama ini dia andalkan.

Saat keadaan semakin suram, Allah memulihkan kesehatan dan energinya. Namun beberapa waktu kemudian, ia mendapati dirinya selalu mengeluh tentang situasinya. Bila dia mengeluh, energinya yang dibarui itu terhisap habis. Selam dua bulan dia marah kepada Tuhan. “Bapa, ini tidak adil,” protesnya. ‘Engkau telah mengambil segalanya dariku. Tidak ada lagi yang tersisa!’ Lalu terngiang suara Roh Kudus: “Ya, itulah tujuanya.”

Itu membuat Gavin terpana. Allah ingin dia tidak memiliki apa-apa? Lalu dia sadar kalau selama ini dia menjalankan pelayanannya dengan mengandalkan kekuatannya sendiri. Dia menjadi”pahit” karena Allah telah menyingkirkan “kekuatannya” agar dia menyadari sangat perlu bergantung pada Tuhan. Sebaimana Yohanes dalam Wahyu 10, Allah memakai kekecewaannya sebagi suatu batu loncatan bagi dia melaksanakan bentuk pelayanan yang berbeda.

Saat Gavin sudah kembali melayani. Namun pusat pelayannannya tidak terletak pada talenta atau kekuatannya, melainkan di dalam hubungan akrab bersama Allah. Sama seperti  Kitab Wahyu menimbulkan dampak yang jauh lebih besar selam berabad-abad dari yang pernah dibayangkan Yohanes, demikian pula pekerjaan yang dilakukan bagi Allah dapat melebihi harapan kita saat kita mengerjakannya sebagi buah hubungan yang intim bersama Dia.

Tuhan,  buat mataku terbuka untuk melihat arah baru melalui cara apapun yang Engkau pilih. Bantu aku untuk mengenali pekerjaan tangan-Mu di dalam “pahitnya” pengalaman hidup sehari-hari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar