Sabtu, 08 Juni 2013

Renungan Pagi, Sabat 8 Juni 2013

“Lalu malaikat yang pertama meniup sangkakalanya dan terjadilah HUJAN ES, DAN API, BERCAMPUR DARAH; DAN SEMUANYA ITU DILEMPARKAN KE BUMI; MAKA TERBAKARLAH SEPERTI DARI BUMI dan sepertiga ari pohon-pohon dan hanguslah seluruh rumput-rumputan hijau” (Wahyu 8:7).

Kalau saja perang nuklir terjadi, berikut adalah saran ke mana kita harus berlindung.  Di utara Taman Nasional Yellowstone, ada sebuah tempat yang disebut Lembah Firdaus.  Pada pemandangan luar biasa di lembah ini, dengan mudah akan ditemukan:  Perlatan ventilasi, pintu-pintu berbentuk kubah di punggung-pungguh bukit, menara pengawas yang dapat berfungsi ganda sebagai kubu senapan mesin.  Salah sebuah tempat perlindungan itu dinamai Bahtera Mark, seperti motel yang tertanam 6 meter di bawah tanah.  Ketika seseorang bertanya kepada pembangunnya, “Mengapa engkau tidak tinggal di sini ?” Dia berkata, “Apakah engkau gila ? Satu-satunya alasan saya akan tinggal di sini, adalah jika situasi mengharuskan saya tinggal di sini.”

Bahtera Mark dipenuhi berbagai perlengkapan dan bahan makanan yang mungkin berguna pada masa pengungsian yang lama.  Selanjutnya teradapat ruang penetralan dan sebuah ruang mesin dengan sejumlah besar  bahan bakar tersimpan di sana.  Tempat perlindungan utama adalah berukuran kira-kira 10 meter lebarnya dan 40 meter panjangnya.  Terdapat tiga lantai dan 40 kamar tidur.  Juga memiliki klinik yang lengkap dan dapur umum yang besar, cukup memberi makan 150 orang, kata pendiri bangunan tersebut.

Tetapi mengapa 150 orang ingin pergi ke bawah tanah selama setahun ? Semuanya diawali pada tahun 1980 ketika ramalan tentang perang nuklir di mulai sebuah kelompok agama lokal yang kontroversial, Gereja Unvirsal dan Triumphant.  Tren membangun tempat perlindungan segera menyebar ke gereja tetangga.  Saat ini daerah memiliki sekitar 30 tempat perlindungan.

Menurut seorang yang kemungkinan besar akan tinggal di tempat itu, “Ketika hal itu telah terjadi, keseimbangan siklus udara akan terganggu.  Arus angin yang keras yang seharusnya tinggal di atas, dapat turun ke permukaan, dan bayangkan, angin dengan kecepatan 490 km per jam akan mengubah keseluruhan hidup kita.”  Di Lembah Firdaus, mereka berpikir bahwa seluruh penduduk Amerika tidak bersiap-siap.

Kebanyakan orang-orang ini adalah orang Kristen yang konservatif, yang memandang sangkakala itu sebagai bencana alam yang akan menimpa seluruh manusia.  Tetapi mereka salah memahami arti ayat ini.  Menurut Wahyu, sangkakala adalah penghakiman Allah kepada mereka yang tidak percaya (Why. 8:3-5; 9:4).  Jadi, jalan terbaik dan paling aman untuk menghadapi penghakiman Allah bukanlah tempat perlindungan di Montana, tetapi penurutan kepada Injil Yesus Kristus.


Tuhan, manakala duniaku “runtuh,” tolong aku untuk selalu percaya kepada-Mu.

Jumat, 07 Juni 2013

Renungan Pagi, Jumat 7 Juni 2013

Lalu MALAIKAT ITU MENGAMBIL PEDUPAAN ITU, MENGISINYA DENGAN API DARI MEZBAH, DAN MELEMPARKANNYA KE BUMI. MAKA MELEDAKLAH BUNYI GURUH, DISERTAI HALILINTAR DAN GEMPA BUMI. Dan ketujuh malaikat yang memegang KETUJUH SANGKAKALA ITU bersiap-siap untuk meniup sangkakala itu” (Wahyu 8:5, 6).

Pada pukul 8 malam di tanggal 30 Oktober 1938, sebagian besar keluarga-keluarga Amerika berkumpul mengelilingi radio mereka mendengarkan program nomor satu di negeri, Edgar Bergen dan rekan bodohnya Charlie McCarthy. Namun di stasiun radio lain, disiarkan acara Mercury Theatre on the Air. Orson Welles mengawali acara dengan ramalan cuaca palsu diikuti musik. Dia menginterupsi musik dengan serangkaian berita singkat mengenai ledakan-ledakan di Planet Mars, diikuti oleh datangnya sebuah silinder aneh tepat di luar Kota Trenton, New Jersey.

Banyak pendengar saluran radio lain beralih ke siaran itu, mereka tertarik pada siaran berita singkat yang agaknya langsung. Acara itu mencakup wawancara palsu dengan kerumunan orang banyak dan sirene polisi di latar belakangnya. Seakan-akan benar-benar terjadi, dilaporkan adanya makhluk-makhluk mengerikan mengobrak-abrik sekitar New Jersey, menewaskan para polisi dan warga sipil. Makhluk angkasa luar dari Mars sedang menyerang semua orang.... Khayalan pendengar mulai menggila. Kepanikan massal menyebar ke seluruh negeri. Acara ini berhasil menipu bahkan para ilmuwan yang terpelajar.

Di Fayetteville, Indiana, keluarga Nickless menjadi khawatir terhadap nyawa mereka. Mereka mengumpulkan anak-anak mereka dan berkendara sejauh satu setengah mil ke rumah Kakek. Kakek Nickless adalah seorang pria kuat yang berpandangan kokoh. Ia pasti tahu apa yang mesti diperbuat. Saat mereka tiba di tempat Kakek, mereka nyaris histeris. Teriak mereka, “Nyalakan radio!” Kakek mendengarkan sebentar lalu mulai tertawa. Ia memberitahu mereka bahwa itu suatu tipuan, itu hanya sebuah acara radio.

“Bagaimanakah Kakek tahu?” teriak mereka. Meraih Alkitabnya, Kakek berkata, “Menurut ini, dunia tidak akan berakhir dengan cara demikian.” Lalu dia mengingatkan mereka tentang Kitab Wahyu dan apa yang bakal terjadi. Setelah beberapa saat, keluarga Nickless menjadi tenang dan kembali ke rumah untuk menidurkan anak-anak. Kakek itu benar.

Hal-hal ganjil telah terjadi dan masih akan terus terjadi di dunia ini. Sangkakala Kitab Wahyu tidak menyembunyikan tanda-tanda bencana. Tetapi Yohanes menulis kitab tersebut bukan untuk menakut-nakuti kita. Sebaliknya, kitab itu memberikan jaminan kepada kita bahwa tidak peduli seburuk apa pun keadaan, pada akhirnya semuanya akan berakhir baik.

Tuhan, tenangkan kekhawatiran dan ketakutanku dengan jaminan dari Firman-Mu.

Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa, 7 Juni 2013



 Pendalaman: 
"Tetapi walaupun demikian sangat gelap ini bukan tanpa pengharapan bagi mereka yang berharap pada Allah. Nabi Hagai dan Zakharia diangkat untuk menghadapi krisis ini. Dalam menggerakkan kesaksian utusan-utusan yang ditunjuk ini mengungkapkan kepada orang banyak penyebab ke­sulitan mereka. Kurangnya kemakmuran jasmani adalah akibat kelalaian me­naruh kepentingan Allah yang nomor satu, kata nabi-nabi itu. Sekiranya orang-orang Israel telah menghormati Allah, sekiranya mereka telah menunjukkan penghormatan dan penghargaan yang layak kepada-Nya, dengan menjadikan pembangunan rumah-Nya sebagai pekerjaan mereka nomor satu, maka mereka akan dapat mendatangkan hadirat dan berkat-Nya."—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 4, hlm. 174.


"Bait suci yang kedua ini tidak dihormati dengan awan kemuliaan Tuhan, tetapi dengan kehadiran yang hidup dari Dia yang di dalam-Nya tinggal kepe­nuhan KeAllahan secara tubuh—yang adalah Allah sendiri yang dinyatakan da­lam daging. "Kerinduan segala bangsa" sebenarnya telah datang ke Bait Suci itu pada waktu Orang dari Nazaret itu mengajar dan menyembuhkan orang sa­kit di serambi suci itu, Dalam kehadiran Kristus, dan hanya dalam hal inilah, kemuliaan bait suci kedua melebihi bait suci yang pertama."—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 24,25.

PERTANYAAN UNTUK DIDISKUSIKAN
1.  Dalam kelas, diskusikan jawabanmu untuk pertanyaan hari Senin tentang kehadiran Kristus di bumi ini. Pikirkanlah pengertian dari bukan hanya kehadiran-Nya tetapi pengorbanan diri-Nya bagi dosa dunia ini. Pikirkan apakah maksud hal ini tentang nilai kita sebagai pribadi. Pikirkan juga, betapa berbedanya pandangan tentang ma­nusia sekarang ini dibandingkan dengan pandangan evolusi yang se­karang menjadi bagian yang umum di Dunia ini.
2.  Yesaya berbicara tentang raja Babylon yang sombong, yang dalam kekuasaannya membuat bangsa-bangsa goncang dan bumi gemetar" (Yes. 14:16,17). Bagaimanakah perbedaan goncangan dari campur ta­ngan Allah sebagaimana digambarkan Hagai pada pasal 2?
3. Israel kuno sering tidak menurut kepada pekabaran yang disampai­kan nabi-nabi Allah. Bersiaplah untuk berbagi dalam kelas, dalam hal apakah umat-umat Allah saat ini menolak pekabaran yang telah Tuhan berikan kepada umat-Nya.
4. Alkitab sangat jelas bait suci kuno dan upacara korbannya telah ke­hilangan nilai, sekali dan untuk semua, setelah kematian Yesus. Apa­kah yang Ibrani 8 dan 9 katakan tentang apa yang telah dilakukan Kristus dan itu dilakukan untuk kita yang kaabah yang mula-mula tidak pernah lakukan?

Kamis, 06 Juni 2013

Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa, 6 Juni 2013



CINCIN METERAI  ALLAH

"Pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN Semesta alam, Aku akan mengambil engkau, hai Zerubabel bin Sealtiel, hamba-Ku—demiki­anlah firman TUHAN-—dan akan menjadikan engkau seperti cincin me­terai; sebab engkaulah yang Kupilih, demikianlah firman TUHAN semesta alam. (Hag. 2:24, NIV).

Pekabaran terakhir Tuhan kepada Hagai diberikan pada hari yang sama dengan yang sebelumnya dengan maksud untuk melengkapinya (lihat Hag. 2:22,23). Tuhan memperingatkan datangnya kehancuran (dari kerajaan dan bangsa itu pada hari pengadilan Tuhan. Tetapi pada hari yang sama, nabi itu berkata, hamba Tuhan akan menyelesaikan tugas keselamatan yang telah di berikan. Hal ini kita akan pahami sepenuhnya saat itu digenapi, akhirnya dan sepenuhnya, hanya pada saat kedatangan yang kedua dan semua yang terjadi setelah itu.
Para pemimpin politik nasional disatukan di sini dengan raja Israel yang mulia, Raja Daud; dari siapa dia telah lahir. Zerubabel adalah cucu dari raja Yoyakhin dan pewaris yang sah untuk takhta Daud setelah penawanan Babylonia. Dia melayani sebagai gubernur Yehuda di bawah raja Persia, Darius yang Agung, dan pendorong utama dibalik pembangunan kembali bait suci di Ye­rusalem, Yosua adalah imam besar yang juga membantu dalam pembangunan kembali bait suci itu.
Nabi itu berkata bahwa Zerubabel akan menjadi cincin meterai Allah, se­buah benda yang memberikan bukti dari kekuasaan dan kepemilikan. Seperti seorang raja mencap dokumen dengan cincin, Tuhan akan mencap seluruh du­nia dengan pekerjaan hamba-Nya. Walaupun peranan kunci Zerubabel dalam pembangunan bait suci itu tidak pernah diremehkan, dia tidak bisa mengge­napi semua janji yang diberikan Allah kepadanya melalui Hagai. Penulis In­jil mengarahkan kepada pribadi dan pelayanan Yesus Kristus, anak baik Daud maupun Zerubabel, sebagai penggenapan akhir dari semua janji kemesiasan yang ditemukan dalam Alkitab.

Baca Lukas 24:13-27, berfokus khususnya pada kata-kata Kristus ke­pada dua orang laki-laki itu. Pekabaran penting apa yang diberikan ke­pada mereka, dan bagaimanakah kata-kata-Nya itu tunjukkan kepada kita pentingnya memahami nubuatan Perjanjian Lama dan mengapakah itu hingga saat ini sangat bersangkut paut dengan Kristen?

Renungan Pagi, Kamis 6 Juni 2013

“Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan DOA ORANG-ORANG KUDUS ITU dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah” (Wahyu 8:4).

Sebuah kapal karam dalam badai dan hanya dua orang yang selamat.  Mereka sanggup berenang ke pulau kecil yang menyerupai padang pasir.  Dua orang yang selamat itu, tidak tahu apa yang mesti diperbuat, sepakat bahwa tidak ada yang mereka perbuat selain berdoa pada Tuhan.  Mereka memutuskan untuk menjadikan hal itu pertandingan doa.  Untuk mengetahui doa siapa yang lebih efektif, mereka membagi dua pulau itu dan tinggal di masing-masing wilayah yang sudah ditetapkan.

Hal pertama yang mereka mohon adalah makanan.  Keesokan paginya, pria yang pertama melihat pohon yang berbuah lebat di sisi pulau bagiannya, dan dia bisa memakan buahnya.  Wilayah pria yang satunya tetap tandus.  Setelah seminggu berlalu, pria yang pertama kesepian, dan dia berdoa memohon seorang istri.  Keesokan harinya, ada kapal lain yang karam di lepas pantai, dan satu-satunya yang selamat adalah seorang wanita yang berenang di sisi pulau bagiannya.  Namun di bagian lain pulau tersebut keadaan tidak berubah.  Kemudian pria yang pertama berdoa memohon rumah, pakaian, dan lebih banyak makanan.  Ajaibnya, dia menerima semua itu.  Namun demikian pria kedua tetap tidak menerima apa pun juga.  Akhirnya, pria yang pertama memohon ada kapal datang, supaya dia dan istrinya bisa meninggalkan pulau tersebut.  Di pagi harinya, dia mendapati sebuah kapal berlabuh di sisi pulau bagiannya.

Pria yang pertama itu naik ke kapal bersama istrinya dan memutuskan untuk meninggalkan pria yang kedua di pulau itu.  Dia menganggap pria kedua itu tidak pantas menerima berkat-berkat Allah, Karena tidak satu pun doanya yang dijawab.  Saat kapal hendak bergerak berangkat, pria yabng pertama itu mendengar suatu suara dari surga menggema, “Mengapakah engkau meninggalkan kawanmu di pulau itu?”

“Berkat-berkatku adalah milikku, karena akulah yang memohonkannya,” jawab pria pertama.  “Doa-doanya tidak dijawab, jadi ia tidak pantas menerima apa pun juga.”  “Engkau salah!” suara itu menegurnya.  “Doanya hanya satu, dan itu Aku jawab.  Jika bukan karena itu, engkau tidak akan menerima satu pun berkat-berkat-Ku.”
“Katakan padaku,” pria pertama bertanya pada suara itu, “apakah yang dia doakan sehingga aku harus berterima kasih kepadanya?”  Jawab suara itu, “Dia berdoa agar semua doamu dijawab.”

Meskipun kita tidak senang untuk mengakuinya, seringkali keegoisan mewarnai doa-doa kita.  Doa-doa orang – orang kudus sejati memperlihatkan sikap berkorban diri bagi sesama seperti yang diperlihatkan Yesus di kayu salib.

Tuhan, murnikan doa-doaku hari ini dengan “dupa” kebenaran-Mu.

Rabu, 05 Juni 2013

Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa, 5 Juni 2013




KERINDUAN SEGALA BANGSA

Baca Hagai 2:6-9. Apakah yang dijanjikan di sini, dan bagaimana kita dapat mengerti penggenapannya?

 Melalui Hagai, Allah mengumumkan goncangan besar bagi bangsa-bangsa pada hari Tuhan saat bait suci dipenuhi dengan kehadiran Ilahi. Nabi itu meng­ajak orang-orang sezamannya untuk melihat melampaui kesulitan dan kemis­kinan hari ini kepada kemuliaan kerajaan Allah yang akan datang kepada siapa bait suci itu ditujukan.
Tujuan utama keagungan dari pembangunan bait suci di Yerusalem adalah untuk membuatnya layak bagi kehadiran Allah. Namun, menurut ayat ini; Tu­han mau tinggal di rumah kurang mulia dan berikutnya akan membawa kea­gungan kepada rumah itu. Bangsa itu tidak perlu terlalu memperdulikan bagai­manakah caranya mereka membiayai pembangunan itu. Semua harta adalah miiik Allah yang berjanji untuk tinggal di bait suci yang baru itu. Allah sendiri adalah pemberi keagungan bait suci itu.
"Ketika bangsa itu berusaha melakukan bagian mereka, dan berusaha men­cari suatu pembaruan kasih karunia Allah dalam hati dan kehidupan, maka pe­kabaran demi pekabaran diberikan kepada mereka melalui Hagai dan Zakharia, dengan kepastian-kepastian bahwa iman mereka akan mendapat pahala yang berlimpah-limpah dan dengan demikian firman Allah mengenai kemuliaan masa depan Bait Suci itu yang temboknya mereka sedang bangun tidak akan gagal. Pada bangunan inilah akan muncul, tepat pada waktunya, yang di­rindukan segala bangsa sebagai guru dan Juruselamat umat manusia'—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 4, hlm. 177.
Allah menjanjikan bahwa keagungan dari bait suci sekarang ini lebih besar dari kemuliaan dari bait suci sebelumnya. Kemuliaannya berbeda karena bait suci ini akan menjadi terhormat dengan kehadiran Yesus, dalam daging. Bah­kan, kehadiran Yesus membuat kemuliaan dari bait suci yang baru lebih besar dari kemuliaan bait suci Salomo.

Bacalah Ibrani 8:1-5. Apa pun kemuliaan bait suci duniawi, kita ja­ngan pernah lupa bahwa itu hanyalah bayangan, sebuah lambang dari rencana keselamatan. Pikirkan apakah artinya itu, bahwa sekarang, Ye­sus melayani demi kita, dalam bait "suci yang benar" yang dibuat oleh Allah, bukan manusia. Bagaimanakah kita dapat belajar untuk lebih menghargai pentingnya pekabaran kaabah dalam rencana keselamatan?

Renungan Pagi, Rabu 5 Juni 2013

“Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas.  Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan DOA SEMUA ORANG KUDUS di atas mezbah emas di hadapan takhta itu.  Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan DOA ORANG-ORANG KUDUS ITU dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah” (Wahyu 8:3,4).

Apakah Allah masih menjawab doa-doa seperti dulu ? Apakah Dia berbicara pada mausia seperti halnya Dia berbicara kepada Abraham ? Di satu pagi buta, suara membangunkan Abraham, dan berkata, “Bawalah anakmu yang tunggal itu ke atas bukit yang ada di utara, serahkanlah dia sebagai korban bakaran.”  Jika Anda adalah Abraham, apakah yang akan Anda lakukan ?

Bagaimanakah dia bisa mengetahui bahwa permintaan yang aneh itu berasal dari Allah ? Saya rasa Abraham sepanjang hidupnya, telah sering melakukan perbincangan dan berjalan bersama Allah.  Dia dapat mengetahui kapan Allah sedang berbicara kepadanya, dan dapat membedakan jika itu hanya sekadar perasaannya saja atau pengaruh dari luar.  Abraham telah melakukan eksperimen dengan Allah, sehingga dia mengetahui kapan Allah berbicara.

Apakah Allah masih berbicara kepada manusia saat ini ? Saya mempraktikkan proses berikut ini.  Sebelum berdoa, saya mengambil pensil dan kertas.  Setelah selesai berdoa, saya akan tetap duduk dan dengan diam menunggu.  Lalu saya menuliskan pemikiran atau gagasan yang terlintas dalam benak saya.  Pada waktu-waktu seperti itu, kebanyakan pemikiran biasanya tidak ada hubungannya dengan kehidupan saya saat itu.  Tetapi beberapa sepertinya menjanjikan.  Saya menguji ide-ide ini dengan Firman Allah, dan menghapus semua ide yang berlawanan dengan Firman Allah.  Saya menguji semua gagasan itu dengan pengalaman dan mengamati hasilnya.  Misalnya, jika saya terdorong untuk menelepon seseorang, saya melakukannya ! Entah sesuatu berasal dari Allah ataukah tidak itu bisa dibedakan dengan cara menguji kesan-kesan yang kita alami.

Seorang mahasiswa yang mendengar saran saya memutuskan untuk mencobanya.  Setelah berdoa, dia merasa terdorong untuk menelepon seorang wanita di Kanada.  Karena ketika itu istrinya sedang di Kanada, maka dia menelepon istrinya dan memintanya menghubungi wanita itu.  Istrinya mencoba beberapa kali, tapi tidak berhasil.  Mahasiwa itu meminta istrinya untuk terus mencoba.  Kali berikutnya dia mencoba, wanita itu mengangkat telepon.  “Suami saya meninggal tiga hari lalu,” katanya, “dan saya baru saja kembali dari dokter yang mendiagnosis saya mengidap kanker.  Saya sedang duduk disamping telepon bertanya-tanya apakah ada orang yang peduli!”

Tidak perlu dikatakan lagi, saya dan mahasiswa saya percaya bahwa Allah masih menjawab doa.

Tuhan, sentuh hatiku hari ini dengan apa pun juga yang Engkau ingin agar aku lakukan.  Aku terbuka pada pimpinan-Mu.

Selasa, 04 Juni 2013

Renungan Pagi, Selasa 4 Juni 2013


“Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas.  Dan kepadanya diberikan banyak KEMENYAN untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas MEZBAH EMAS di hadapan takhta itu” (Wahyu 8:3,4).

Seorang pendeta yang sedang berlibur menyewa perahu layar di lautan Karibia.  Dia dan keluarganya sangat menikmati perpaduan teriknya matahari dengan sejuknya tiupan angin laut.  Itu adalah istirahat yang sangat menyenangkan dari tekanan pekerjaan sehari-hari.  Lalu mereka mendaratkan perahu mereka di sebuah pulau kecil berpasir dengan pohon-pohon palem.  Tidak lama kemudian, ada pasangan yang melabuhkan perahu yacht besar ber-AC bergabung dengan mereka beberapa meter jauhnya.  Setelah berkenalan, sang pendeta menyinggung sedikit tentang pekerjaannya.  Namun walaupun jelas-jelas pasangan tersebut adalah orang sekular, tampaknya mereka tidak merasa terganggu.  Malah, mereka mengundang sang pendeta dan keluarganya makan malam bersama mereka di atas yacht.  Sang pendeta mencari kesempatan baik untuk menyaksikan perbedaan yang bisa dibuat Yesus dalam kehidupan ini, bahkan bagi mereka yang kelihatannya memiliki segalanya.  Tetapi dia tidak pernah memperolehnya.  Tidak lama kemudian matahari pun terbenam, dan dia sadar bahwa dia harus kembali ke perahu layarnya dan pulang ke resor sebelum hari gelap.

Keluarga itu mengucapkan selamat berpisah pada pasangan itu dan menuruni tangga ke perahu layar yang ditambatkan disamping yacht.  Setelah istri dan anak-anaknya turun ke perahu layar, pendeta itu pun berjalan menuju ke tangga.  Tepat pada saat itu salah seorang dari pasangan itu mencondongkan tubuh melewati pagar pembatas, menatap ke bawah kepadanya  dan bertanya, “Apa artinya menjadi seorang Kristen?” Pendeta itu mengadah, sadar bahwa dia tidak boleh buang-buang waktu untuk segera menjawab!

“Agama artinya perbuatan,”jawabnya.  “Kekristenan berarti sudah diperbuat.  Iman Kristen bukan membicarakan apa yang kita lakukan bagi Allah, tapi apa yang Allah telah lakukan bagi kita.”  Karena saliblah maka umat manusia diterima Allah.  Manusia dapat menemukan arti dan tujuan kehidupan ini, karena Allah telah bertindak membuat semuanya mungkin terjadi.

Itulah arti dari kemenyan di atas mezbah.  Kemenyan berasal dari mezbah korban bakaran.  Korbanlah yang membuat kemenyan diperlukan.  Salib adalah dasar dari segala sesuatu yang Allah lakukan kepada umat-Nya.  Karena semua yang telah terjadi di kayu salib, Yesus menyediakan pengampunan.  Dalam kebiasaan sehari-hari pada zaman Perjanjian Lama, dupa senantiasa menaungi  tempat itu, menutupi umat dari dosa-dosa mereka.  Saat kita kehilangan kemuliaan Allah, “dupa” yaitu kebenaran Kristus juga menudungi kehidupan kita.

“Tuhan, terima kasih atas penerimaan-Mu yang sempurna bagi diriku hari ini di dalam Kristus.  Semoga aku merasakan kebenaran-Mu".

Senin, 03 Juni 2013

Renungan Pagi, Senin 3 Juni 2013

"Lalu aku melihat ketujuh malaikat, yang berdiri di hadapan Allah, DAN KEPADA MEREKA DIBERIKAN TUJUH SANGKAKALA" (Wahyu 8:2).

Suatu hari kawan saya, Jim, berada di Beijing, Cina, dan membutuhkan sepatu ukuran 11. Nah, mendapatkan sepatu ukuran 11 tidak masalah di Amerika Utara atau Eropa, namun sesuatu yang mustahil di Cina. Jim menelusuri pasar terbuka yang menjual sepatu-sepatu baru, namun tak ada yang muat.

Di sebuah toko, akhirnya Jim menemukan sepasang sepatu sesuai ukuran kakinya, namun tidak cocok dengan seleranya. Pramuniaga memohonnya membeli sepatu itu dan menurunkan harganya. Dengan sopan Jim mengucapkan terima kasih dan berusaha pergi dari situ. Si pramuniaga menahan lengannya erat-erat, dan merayu Jim untuk membelinya sambil memberikan diskon lumayan besar. Setelah beberapa menit, Jim meloloskan diri dan melanjutkan pencariannya. Tak disangka-sangka, si pramuniaga mengikuti Jim sambil memegang sepatu itu (kini harganya turun menjadi $ 8). Agar si pramuniaga tidak mengganggunya lagi, akhirnya Jim membeli sepatu itu. Seandainya pramuniaga itu tidak gigih, Jim pasti tidak membeli sepatu tersebut.

Konsep sangkakala memiliki latar belakang yang kaya di dalam Perjanjian Lama. Enam kata bahasa Ibrani dan dua kata bahasa Yunani diterjemahkan sebagai "sangkakala" dan "meniup sangkakala." Dari ke-134 penggunaannya dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani, 75 diantaranya adalah dalam konteks pemujaan, 33 merujuk situasi perang, dan 10 memperingatkan bahwa musuh sedang mendekat (Yehezkiel 33).

Yang terpenting dari referensi-referensi ini adalah Bilangan 10:8-10. Sangkakala itu perkakas suci yang digunakan dalam ibadah maupun dalam peperangan. Tiupan sangkakala bagaikan seruan agar Allah mengingat perjanjian-Nya. Saat Dia mendengar seruan sangkakala umat-Nya, maka Dia melindungi dan membela umat-Nya dalam peperangan (ayat 9). Dan saat para imam meniup sangkakala atas korban-korban dalam penyembahan bangsa Israel, Allah "mengingat" umat-Nya dan mengampuni dosa-dosa mereka (ayat 10). Dengan demikian, manakala imam-imam membunyikan sangkakala, Allah bertindak. Jadi peniupan sangkakala merupakan simbol perjanjian doa. Saat umat Allah berdoa atas dasar janji-Nya, maka Dia akan menjawab. Dia akan membebaskan mereka dari musuh-musuh mereka dan juga dari dosa.
Sepintas, ketujuh sangkakala itu seperti rangkaian doa untuk peperangan dan bencana. Tetapi lebih mendalam, sangkakala itu menunjukkan suatu konsep rohani. Itu menyimbolkan seruan umat Allah agar Dia menegakkan kebenaran di bumi ini. Dan seperti pramuniaga sepatu di Beijing, tidak percuma jika kita bertekun berseru dalam doa.

Tuhan, tolong aku agar tidak balas dendam di dalam kehidupanku sehari-hari. Sebaliknya, memercayai Engkau untuk melakukan yang benar dan membereskan "musuh-musuhku" jika memang perlu.