Minggu, 05 Mei 2013

Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa, 5 Mei 2013



Minggu,  5 Mei 2013

NABI YANG TIDAK MENURUT (YUNUS 1)



Tidak banyak yang diketahui tentang Yunus atau latar belakang keluarga­nya. 2 Raja-raja 14:25 mengatakan bahwa dia hidup di bagian utara Israel dan melayani selama abad delapan S.M. Ayat yang sama menunjukkan bahwa Yu­nus memperkirakan penambahan wilayah dari kerajaan Israel.
 Niniwe secara sejarah adalah satu dari tiga kota besar di Asyur, kota pen­ting yang terletak di sekitar Sungai Tigris. Karena Allah adalah Allah untuk se­mua bangsa dan semua manusia bertanggung jawab kepada-Nya (Amos 12), Dia mengutus hamba-Nya Yunus untuk memperingatkan kehancuran orang Niniwe akan datang. Perintah Allah tercatat dalam Yunus 1:2 untuk "Berseru terhadap mereka" dapat juga diartikan "berseru untuk itu."
Kekejaman Asyur sudah terkenal. Satu abad kemudian, nabi Nahum me­nyebut Niniwe sebagai "kota berdarah... penuh dusta dan perampasan" (Nah. 3:1). Yunus diutus untuk menyampaikan pesan Allah kepada orang-orang se­perti itu. Di antara hal yang lain, mungkin takut terhadap orang Asyur yang di- benci yang membuat Yunus bersikap seperti itu. Ketika disuruh Allah untuk mengadakan perjalanan ke timur ke arah Niniwe, dia menolak dan mencoba melarikan diri ke barat melalui kapal ke Tarsus.
Awalnya, semuanya berjalan dengan baik, tetapi ketika Allah mengirim­kan badai yang besar untuk mengajar hamba-Nya sebuah pelajaran bahwa ti­dak ada yang dapat bersembunyi dari Allah.
Yunus lari dari Allah karena dia tidak mau melakukan kemauan Allah. Bah­kan sekarang orang-orang memiliki alasan yang banyak untuk mencoba me­larikan diri dari Allah. Beberapa orang melakukannya karena tidak mengenal Allah secara pribadi. Yang lain menolak bahkan gambaran akan Allah dan Firman-Nya; sementara motivasi mereka berbeda, dalam banyak hal mereka me­lakukannya supaya tidak merasa bersalah akan jalan yang mereka hidupkan. Akhirnya, jika tidak ada kekuatan yang lebih tinggi untuk menjawab, mengapa tidak melakukan apa saja yang kamu inginkan? Ada, bahkan orang Kristen yang menghindari Allah ketika Dia memanggil mereka untuk melakukan sesu­atu yang mereka tidak ingin lakukan, sesuatu yang menentang sifat egois dan penuh dosa.


Baca Mazmur 139:1-12. Apakah pekabaran mendasar bagi kita di sana? Perasaan seperti apakah yang timbul dalam dirimu oleh karena dasar kebenaran ini? Atau melihat hal itu dengan cara ini: Kita percaya bahwa Allah tidak hanya melihat semua yang kita lakukan tetapi bahkan mengetahui pikiran kita. Apakah kita menghidupkannya dengan kesa­daran yang terus menerus atau kita cenderung untuk mencoba dan me­ngotori pikiran kita? Atau mungkin, kita begitu terbiasa kepada pemi­kiran di mana kita tidak begitu memberikan perhatian atasnya? Apa pun alasannya, seberapa berbedakah tindakanmu jika setiap saat, kamu ha­rus tanggap kepada fakta bahwa Allah mengetahui semua pikiranmu?


Renungan Pagi, Minggu 5 Mei 2013


“Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, aku mendengar makhluk yang ketiga berkata : “Mari!” Dan aku melihat : sesungguhnya, ada seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya memegang sebuah timbangan di tangannya.  Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata : SECUPAK GANDUM SEDINAR, DAN TIGA CUPAK JELAI SEDINAR.   TETAPI JANGANLAH RUSAKKAN MINYAK DAN ANGGUR ITU” (Wahyu 6:5,6).

Secupak adalah kira-kira upah sehari pada masa itu.  Jadi harga yang disebutkan dalam ayat ini menggambarkan masa kelaparan yang berat.  Seorang harus bekerja sehari penuh untuk dapat memperoleh cukup gandum bagi dirinya sendiri.  Jika dia memiliki keluarga, maka dia harus membeli gandum yang lebih murah.   Melihat jumlah anggota keluarga yang biasanya besar di zaman itu, maka anak-anak akan mati kelaparan atau menderita kekurangan gizi.

Mengapa ayat ini menyebutkan jangan rusakkan minyak dan anggur, hal-hal yang kurang dibutuhkan dibandingkan gandum ? Pada abad  pertama di Asia Kecil, perdagangan anggur lebih banyak menghasilkan untung daripada gandum.  Para pemilik tanah yang kaya di Asia, akhirnya beralih dari gandum menjadi petani anggur.  Maka para pemilik tanah menyisihkan banyak tanah mereka di propinsi Asia (termasuk di ketujuh jemaat) untuk menghasilkan minyak zaitun dan anggur bagi keuntungan ekspor.  Sementara harus mendatangkan gandum jauh-jauh dari Mesir atau daerah lain di sekitar Laut Hitam.  Ketika para pemilik tanah dan perusahaan ekspedisi mendapatkan keuntungan  dari pilihan mereka, penduduk di Asia harus membayar lebih mahal untuk bahan pokok.  Masalah ini menjadi sangat serius sehingga kaisar Domitian ikut campur tangan dan memaksa pemilik tanah membatasi produksi anggur di propinsi Asia, tapi tidak berhasil.  Dan seperti biasanya terjadi, keserakahan kaum kaya berakibat serius terhadap kaum miskin.

Lalu, menjaga minyak dan anggur juga merupakan tanda belas kasih Allah dalam masa penghakiman. Peperangan di masa Mediterania kuno termasuk dengan menghancurkan hasil panen di ladang, tetapi bukan tanaman anggur dan pohon zaitun [perlu 15 tahun untuk mencapai produksi penuh].  Kehilangan gandum dan tepung berarti kelaparan untuk setahun, tetapi menghancurkan pokok dan pohon anggur berarti malapetaka berkepanjangan.

Sementara penghakiman Tuhan dalam kehidupan kita bisa tampak keras, hal itu dibiarkan terjadi untuk menyelamatkan kita, bukan menghancurkan kita.  Bukan tujuan Tuhan memperpanjang penderitaan, tetapi Dia menggunakan penderitaan untuk menarik perhatian kita pada-Nya.   Jika saja semua orang mendengarkan panggilan Allah, maka sebagian besar ketidakadilan di dunia ini akan hilang.

Tuhan, aku ingin mendengarkan panggilan-Mu dalam hidupku hari ini.  Semoga aku tidak membutuhkan kesusahan hidup ini, supaya aku rela mendengarkan-Mu.

Sabtu, 04 Mei 2013

Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa, Sabat 4 Mei 2012



Bersemangat untuk Mengampuni (Yunus)

Sabat Petang

Bacalah Untuk Pelajaran Pekan Ini: Yunus 1-4; Mzm. 139:1-12; Yes. 42:5; Wah. 10:6; Mat. 12:39-41; 2 Kor. 36:15-17.

Ayat Hafalan :" Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kuper­sembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!" (Yunus 2:9)

Pokok Pikiran: Buku Yunus menyatakan, di antara hal-hal yang lain, bahwa Allah lebih berkemauan untuk menolong orang lain dari pada kita.

Cerita Yunus, ini bukan jurukabar Allah yang biasa, ia adalah seseorang yang sangat dikenal dalam Alkitab. Yunus diutus oleh Allah untuk mem­peringatkan kehancuran Niniwe yang akan datang. Dia curiga bahwa orang non Ibrani ini akan bertobat dari dosanya dan bahwa Allah akan meng­ampuni mereka. Menjadi seorang nabi yang benar, Yunus tahu, bahwa Allah akan menyelamatkan Niniwe, bukan menghancurkannya. Itulah mungkin se­babnya mengapa dia, pada mulanya, berusaha melarikan diri. Karena memaksa melebihi kendalinya, namun Yunus mengubah pemikirannya dan mengikuti perintah Tuhan.

Dalam menanggapi khotbah Yunus, seluruh kota itu percaya dan bertobat dalam cara yang mana, malangnya, Israel dan Yehuda tidak melakukannya. Yunus, sementara itu, memiliki banyak pelajaran yang akan dipelajari. Cerita ini menunjukkan bagaimanakah Allah dengan sabarnya mengajar nabi yang keras kepala dan picik dan apakah kasih, kemurahan dan pengampunan itu.

* Pelajari Pelajaran Pekan ini untuk persiapan Sabat, 10 Mei.

Renungan Pagi, Sabat 4 Mei 2013


"Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kedua, aku mendengar makhluk yang kedua berkata: Mari! Dan majulah seekor kuda lain, seekor kuda merah padam dan orang yang menungganginya dikaruniakan kuasa UNTUK MENGAMBIL, DAMAI SEJAHTERA DARI ATAS BUMI, SEHINGGA MEREKA SALING MEMBUNUH, dan kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar" (Wahyu 6:3,4).

Mereka yang tidak pernah mengenal perang secara langsung sering mengagung-agungkan gambaran tentang perang. Tetapi mereka yang sudah pernah mengalaminya sendiri cenderung memandangnya lebih realistis. Rasa takut, rasa sakit, perpisahan, pertumpahan darah, lenyapnya kehidupan--tidak ada yang baik di dalam semua itu, kecuali mungkin dalam benak jenderal-jenderal besar. Mengutip kata-kata Jenderal Robert E. Lee: "Baguslah bahwa peperangan itu begitu mengerikan, jika tidak, kita akan terbiasa sehingga menyukainya."

Peperangan tidak jauh dari kita sekarang ini. Bahkan tanpa penggunaan senjata pemusnah masal. Terorisme telah berhasil melipatgandakan penderitaan dan berhasil menarik perhatian seluruh dunia.

Dan sementara teroris internasional merupakan ancaman yang berkelanjutan, kita tidak bisa mengabaikan versi domestiknya. Bom truk Timothy McVeigh menewaskan 168 orang di Oklahoma City, dan dia bukannya seorang aktivitis yang terisolasi. Ia memperoleh ide pemboman tersebut dari novel The Turner Diaries, yang terjual sebanyak 200.000 buku.

Sukar menggunakan kata "peradaban" dalam frasa "peradaban abad ke dua puluh satu." Abad tersebut telah menyaksikan pembantaian Nazi terhadap bangsa Yahudi, genosida di Kamboja dan Rwanda, serta pembersihan etnik orang-orang Armenia dan Yunani dari Turk. Yang kurang begitu terkenal adalah "pemerkosaan Nanking" di mana setelah kota tersebut menyerah kalah, para serdadu memerkosa beramai-ramai para wanita dan membantai kaum prianya untuk berlatih bayonet. Dan tidak cukup tempat untuk membicarakan tentang jutaan orang yang dihancurkan oleh Mao, Stalin, serta Perang Dunia I. Perang membangkitkan yang terburuk dalam diri orang-orang pada setiap kelompok etnis.

Seandainya Yohanes menerima penglihatan ini pada zaman kita, simbol-simbol mengerikan itu mungkin akan berbeda, tetapi pada intinya pekabarannya tetaplah sama. Kemanusiaan tidak pernah berevolusi secara moral selama berabad-abad, kita hanya mengembangkan cara yang lebih efisien untuk saling membunuh. Dalam dunia yang penuh teror dan kekacauan, tidak ada yang pasti selain bahwa Allah yang memegang kendali atas sejarah. Satu-satunya pijakan yang kokoh adalah memercayai Dia.

Tuhan, aku memilih untuk memercayai Engkau, tidak peduli apa yang kusaksikan dalam berita hari ini.

Jumat, 03 Mei 2013

Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa, Jumat 3 Mei 2013


JUMAT, 3 Mei


Pendalaman:  "Derajat kita di hadapan Allah bukannya bergantung atas banyaknya terang yang telah kita terima, tetapi atas penggunaan dari apa yang kita miliki. Maka dengan hal ini walaupun orang kafir memilih yang benar se­berapa jauh mereka dapat membedakannya, berada dalam satu keadaan yang lebih diperkenankan daripada mereka yang telah memiliki terang yang besar, dan mengakui melayani Allah tetapi tidak memperdulikan terang itu, dan kehi­dupan mereka setiap hari berlawanan dengan pengakuan mereka." —Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 247.



Pertanyaan untuk didiskusikan:



  1. Sebagai kelas, kembalilah kepada jawabanmu untuk pertanyaan hari Minggu tentang belajar membenci kejahatan dan mencintai keba­ikan, dan juga bahaya dari menyebut yang baik itu jahat dan yang jahat itu baik. Mengapakah bahaya ini terutama terjadi ketika bu­daya dan masyarakat yang mulai mengubah pandangannya dalam menerima tingkah laku, gaya hidup dan sikap tertentu yang jelas- jelas dikutuk oleh Alkitab. Sebagai pribadi, dan bahkan sebagai ge­reja secara umum, kita tidak kebal terhadap gaya budaya dan ma­syarakat di mana kita berada, bukan? Pikirkan tentang perubahan yang terjadi dalam budaya dan masyarakat untuk beberapa tahun. Contohnya, hal apakah dulu dianggap memalukan dan tabu namun sekarang sudah dilakukan dan dinyatakan secara terbuka, bahkan dianggap baik atau, paling tidak, tidak salah? Bagaimanakah peruba­han-perubahan ini berpengaruh kepada sikap gereja terhadap tin­dakan-tindakan ini? Apakah yang dapat kita lakukan untuk melin­dungi diri kita dan gereja supaya jangan jatuh kepada bahaya jerat menyebut yang jahat itu baik? Pada saat yang sama, perubahan bu­daya yang baik apa yang mempengaruhi gereja untuk hal yang baik, dengan cara yang lebih mencerminkan prinsip kasih dan penerimaan yang dinyatakan dalam hidup Yesus?
  2. Pikirkan lagi tentang pemikiran "kelaparan" akan Firman Allah. Apakah hal yang sama bisa terjadi? Apakah Allah sengaja menyem­bunyikan kebenaran dari umat manusia, atau apakah sikap manusia yang sama sekali menolak Firman Allah? Atau bisakah keduanya? Atau sesuatu yang lain? Diskusikan.
  3. Sebagai Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang hidup dengan be­gitu banyak terang dan memiliki banyak alasan untuk percaya dalam kebenaran yang telah diberikan, apakah kita tidak sedang dalam ke­adaan bahaya dengan berpikir bahwa hanya pengetahuan kebenaran saja yang kita butuhkan? Dengan kata lain, bagaimanakah kita da­pat menghidupkan kebenaran yang dipercayakan kepada kita? Me­ngapakah itu sangat penting?



Renungan Pagi, Jumat 3 Mei 2013


“Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kedua, aku mendengar makhluk yang kedua berkata : ‘Mari’ Dan majulah seekor kuda lain, seekor kuda merah padam dan orang yang menunggangnya dikaruniakan kuasa UNTUK MENGAMBIL DAMAI SEJAHTERA DARI ATAS BUMI, SEHINGGA MEREKA SALING MEMBUNUH, dan kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar” (Wahyu 6:3,4)

Akan kekerasan adalah tidak adanya damai sejahtera. Di mana orang-orang menolak Injil, damai sejahtera pun lenyap dari muka bumi.  Pria dan wanita terpisah dari pasangannya, orangtua, anak-anak, dan Sabahat-sahabatnya (Mat. 10:32-36). Semua orang berusaha mengamankan kedamaian pribadi mereka dengan mengorbankan orang lain dan damai sejahtera mereka. Sebagai akibatnya, timbul kekacauan yang mengarah pada kekerasan. Di lain pihak, hadirnya Injil dalam kehidupan seseorang membawa kedamaian sejati. Saya tidak perlu mempertahankan hak-hak saya, karena saya sudah memiliki semua yang saya butuhkan di dalam Yesus. Jika tidak demikian, bahkan permasalahan terkecil sekalipun bisa mengarah pada kekerasan.

The Chicago Cubs tidak pernah lagi memenangkan penghargaan Liga Nasional semenjak tahun 1945, tetapi mereka hanya tinggal sedikit lagi untuk dapat memenangkan pertandingan World Series. Skors 3-0 untuk Cubs pada babak ke delapan. Sebuah bola buruk tampak seakan-akan mendarat pada bagian atas dinding yang memisahkan lapangan dengan para penonton di bagian sudut kiri. Moises Alou, pemain sayap kiri Cubs, berlari kencang kearah dinding dan melompat tinggi di udara, mengulurkan sarung tangan-nya melewati dinding. Tampaknya seakan-akan dia bisa menangkap bola.

Tepat pada saat itu seorang penggemar meraih dengan sarung tangan-nya sendiri. Bola itu mengenai sarung tangan si penggemar dan terjatuh ke tribun penonton. Alou mendarat di tanah dan memberi isyarat marah kepada si penggemar. Entah bagaimana, insiden tersebut tampaknya menguras emosi penggemar. Lawan mereka, The Florida Marlins, melaju mencetak 8 angka pada babak itu dan akhirnya memenangkan pertandingan World Series.

Keadaan memburuk di tribun penonton. Aparat keamanan segera menggiring penggemar tadi keluar dari lapangan, dia menutupi kepalanya karena penonton yang lain mencerca dan beberapa berteriak, ‘Bunuh dia!” Ironisnya adalah, Bartman sebenarnya seorang penggemar tim Cubs yang sangat bersedih atas perbuatannya sendiri. Ketika dia melihat bola itu datang, dia berkata, “Mata saya terpaku kepada bola itu….saya terbawa suasana, sampai saya tidak melihat Moises Alou ada di sana.”

Ketidakhadiran Injil, dalam masalah sepele sekalipun, dapat menjadi dasar timbulnya kekerasan manusia. Hanya hubungan dengan Yesus Kristus satu-satunya jalan kepada kedamaian sejati.

Tuhan, tolong aku untuk berpikiran yang benar. Biarlah damai sejahtera dari-Mu dapat kuberikan juga kepada orang di sekitarku.

Kamis, 02 Mei 2013

Renungan Pagi, Kamis 2 Mei 2013

“Maka aku melihat Anak Domba itu membuka yang pertama dari ketujuh meterai itu, dan aku mendengar yang pertama dari keempat makhluk itu berkata dengan suara bagaikan bunyi guruh : ‘Mari’ Dan aku melihat sesungguhnya, ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah dan KEPADANYA DIKARUNIAKAN SEBUAH MAHKOTA.  Lalu ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan” (Wahyu 6:1,2).

Penulis Kitab Wahyu secara seksama telah menyusun strukturnya, meskipun banyak aspek struktur tersebut luput dari pengamatan para pembaca abad kedua puluh satu.  Bagian pertama kitab tersebut memfokuskan pada kenyataan umum dari sebuah zaman Kekristenan.  Di sana kita dapat menemukan keterangan tentang salib, tentang penyebaran Injil, dan segala kejadian yang terjadi mulai saat Yesus sampai apda masa akhir dunia.  Pada bagian kedua buku ini, di sisi lain memusatkan perhatiannya hampir hanya kepada kejadian-kejadian akhir dalam sejarah dunia.

Oleh karena itu, ketika Anda melihat persamaan di antara bagian pertama dan kedua buku ini, Anda akan melihat bahwa bagian pertama buku ini condong untuk memusatkan perhatian kepada kenyataan umum di sepanjang waktu, sementara bagian kedua buku melihat kepada masa-masa Kekristenan dari sudut pandang zaman akhir.  Sebagai contoh, bagian pertama buku memuji Tuhan karena penciptaan (Why. 4:11) dan untuk penebusan (Why. 5:9, 10,12,13), kejadian yang telah terjadi di masa lalu.  Wahyu 19:1-6, di sisi lain, mencurahkan puji-pujian yang sama atas kelepasan umat Tuhan di zaman akhir.

Dalam cara yang sama kuda putih muncul hanya di dua tempat dalam Kitab Wahyu.  Kuda puith dalam Wahyu 6 serupa dengan kuda putih pada Wahyu 19, keduanya memakai mahkota, tetapi Yohanes menggunakan kata Bahasa Yunani yang berbeda untuk masing-masing penunggang kuda. Penunggang kuda pada ayat kita hari ini memakai mahkota stephanos, mahkota kemenangan. Di masa kuno istilah ini dipakai untuk “medali emas olimpiade,” penghargaan yang diterima oleh atlet olimpiade ketika memenangkan diadem, mahkota kerajaan.  Bagian pertama Kitab Wahyu berulang kali merujuk kepada Yesus dan umat-Nya sebagai pemenang, seperti atlet-atlet olimpiade.  Semua yang menang seperti Yesus akan menerima mahkota kemenangan.  Dalam Wahyu 19 Yesus menghentikan semua perlawanan musuh-musuh-Nya, dan Dia sekarang dapat memakai mahkota kerajaan-Nya dan memerintah sebagai raja yang berkuasa.

Terima kasih Tuhan, untuk mengingatkan bahwa semua pikiran dan keputusan yang kubuat hari ini bagaikan memenangkan medali.  Biarlah kemenangan-Mu menjadi bagianku hari ini.

Rabu, 01 Mei 2013

Renungan Pagi, Rabu 1 Mei 2013

“Maka aku melihat Anak Domba itu membuka yang pertama dari ketujuh meterai itu,….Dan aku melihat : sesungguhnya, ADA SEEKOR KUDA PUTIH DAN ORANG YANG MENUNGGANGNYA MEMEGANG SEBUAH PANAH DAN KEPADANYA DIKARUNIAKAN MAHKOTA.  LALU IA MAJU SEBAGAI PEMENANG UNTUK MEREBUT KEMENANGAN” (Wahyu 6:1,2).

Siapakah penunggang kuda putih itu ? Tampaknya simbol-simbol ini secara konsisten menunjuk kea rah yang sama.  Yang pertama dan terpenting, warna kuda itu putih.  Sepanjang Kitab Wahyu, warna putih selalu merujuk pada Kristus dan umat-Nya.  Hal yang sama berlaku untuk “mahkota kemenangan” (stephanos) yang dipakai penunggang kuda itu.

Walaupun “mengalahkan” mungkin mencerminkan bahasa yang negative, pada intinya itu merupakan istilah rohani di dalam Kitab Wahyu.  Faktanya, hingga pasal 6, kata Bahasa Yunani untuk mengalahkan selalu merujuk pada Kristus dan umat-Nya [“barangsiapa yang menang aku akan mengaruniakan…”].  Kata “mengalahkan” di dalam Wahyu merujuk pada kemenangan atas perkara-perkara rohani (Why. 5:5; 12:11). Oleh sebab itu, penunggang kuda putih melambangkan Injil Yesus Kristus, diawali dengan penobatan-Nya di surga (Why. 5) dan berlanjut hingga pada akhirnya.  Meneruskan Injil sekarang adalah aktivitas utama umat Allah di dunia.

Saya tidak akan pernah melupakan bagaimana Injil itu datang kepada saya.  Melayani sebagai pendeta, saya ingin menyenangkan Allah dan menjangkau orang-orang bagi Dia.  Namun demikian, yang saya lakukan adalah sekadar mendapakan kredit dari-Nya.  Tidak ada jaminan bahwa kehidupan saya itu benar di hadapan-Nya.

Suatu hari saya berjalan menyusuri jalan setapak di hutan, membagikan Injil kepada seseorang.  Dia menatap saya dengan penuh antusias.

“Dapatkah Allah menerima saya atas semua yang saya lakukan?”
“Oh, ya,” kata saya dengan yakin, tetapi kelihatannya tidak demikian. 

Berulang kali  saya meyakinkan dia bahwa semua dosa bisa diampuni.  Kami mengucapkan “doa para pendosa.”

Lalu dia menatap saya dan berkata, “Apakah menurut Anda, Allah benar-benar ada di sini ?” Saya menjawab, “Tentu saja.”  Tepat pada saat itu kilat menyambar, guruh menggelegar, dan hujan lebat membuat kami basah kuyup.  Dia menatap saya dengan mata bersinar-sinar.  “Aku dibaptis sekali lagi !”  Dan saya bisa melihat bahwa Injil telah menjangkaunya.  Tetapi ketika saya melihat kekuatan Injil di matanya, Allah juga menjamah saya untuk membiarkan diri saya menerima-Nya saat itu.  Katanya, kilat tak pernah meyambar tempat yang sama dua kali, tetapi hari itu satu Injil telah menjangkau dua jiwa.

Tuhan, aku perlu tahu bahwa aku berjalan bersama-Mu hari ini.  Sentuh hatiku dengan apa pun juga yang perlu untuk dibenarkan, apa pun yang perlu aku pahami.  Aku ingin menjadi tahir di mata-Mu.